Inilah Asal Usul Kerajaan Pajang yang Perlu kita Ungkap

Inilah Asal Usul Kerajaan Pajang yang Perlu kita Ungkap

Kerajaan Pajang – Hallo sahabat Matakaca.com sebagai penggemar sejarah, dan pengamat kerajaan zaman dulu di indonesia, pastinya telinga kita tidak asing lagi dengan kata “Sejarah Kerajaan Pajang” kali ini kita akan berbagi informasi yang belum kalian ketahui tentang sejarah Kerajaan Pajang.

Banyak kerajaan-kerajaan di Indonesia baik, kerajaan Hidu, Budha maupun islam. Kali ini kami akan mengupas salah satu kerajaan Islam di Indonesia yaitu Kerajaan Pajang, Kerajaan Pajang merupakan kerajaan islam yang berdiri setelah kerajaan Demak berakhir. Kerajaan pajang di pimpin oleh 3 raja, penting kiranya untuk kita bahas lebih lanjut hal-hal yang berkaitan dengan kerajaan ini.

Awal Berdirinya Kerajaan Panjang

Awal berdirinya kerajaan panjang terjadi pada tahun 1546, ketika sultan Demak meninggal dunia.
By : histori.id

Awal berdirinya kerajaan panjang terjadi pada tahun 1546, ketika sultan Demak meninggal dunia. Dimana pada waktu itu ada peristiwa peperangan antara Aryo Penangsang dan Joko Tingkir, Joko Tingkir yang tak lain menantu dari Sultan Trenggono, Joko tingkir memenangkan Pertempuran tersebut.

Pada saat ada perselisihan antara Aria Penangsang dengan Joko Tingkir (Hadiwijaya), Sunan Kudus kurang setuju dengan keputusannanya Joko Tingkir (Hadiwijaya). Namun semua itu telah pupus, saat Joko Tingkir berhasil memindahkan pusat kerajaan Demak ke daerah Panjang.

Joko Tingkir atau biasa disebut dengan Hadiwijaya menjadi sultan pertama kerajaan panjang dan disahkan oleh Sunan Giri. Masa pemerintahan Hadiwijaya dihabiskan untuk membrantas pemberontakan-pemberontakan yang sering dilakukan oleh beberapa bupati yang sebelumnya merupakan pendukung Arya Penangsang.

Joko Tingkir (Hadiwijaya) tidak pernah melupakan semua jasa-jasa para sahabat yang ikut berperan dalam mengalahkan Arya Penangsang. Ki Ageng Pemanahan diberi hadiah tanah di daerah Mataram (Alas Mentaok), Ki Penjawi juga diberi hadiah di daerah Pati.

Keduanya diangkat sebagai Bupati di daerah masing-masing. Bupati Surabaya yang banyak ikut andil dalam menundukan daerah daerah Jawa Timur, diangkat sebagai wakil raja dengan daerah kekuasaan Sedayu, Gresik, Surabaya, dan Panarukan.
Sedangkan Sutawijaya (putra Ki Ageng Pemanahan) diangkat sebagai anak angkat Sultan Adiwijaya dan menjadi saudara Pangeran Benawa.

Pangeran Benawa merupakan putera mahkota Kesultanan Pajang. Sutawijaya adalah putra Ki Ageng, ia seorang pemuda yang sangat ahli dan cakap dalam bidang militer dan peperangan, ketika Ki Ageng Pemanahan meninggal dunia pada tahun 1575.

Daerah Kekuasaan Kerajaan Panjang

Secara geografis, kerajaan Pajang terletak di daerah pedalaman. wilayah kekuasaan Pajang hanya meliputi daerah Jawa Tengah
By : id.wikipedia.org

Secara geografis, kerajaan Pajang terletak di daerah pedalaman. Kerajaan ini tidak berkuasa lama, hal tersebut disebabkan beberapa faktor, baik faktor intern maupun ekstern. Namun meskipun demikian, kerajaan ini nantinya juga akan  menghasilkan kemajuan-kemajuan yang signifikan terhadap perkembangan Islam di sekitar wilayah kekuasaanya.

wilayah kekuasaan Pajang hanya meliputi daerah Jawa Tengah. Hal itu disebabkan karena setelah kematian Sultan Trenggono, banyak wilayah jawa Timur yang melepaskan diri. Namun pada tanggal 1568 M, Sultan Hadiwijaya dan para Adipati Jawa Timur dipertemukan di Giri Kedaton oleh Sunan Prapen.

Dalam Kesempatan itu, para adipati sepakat mengakui kedaulatan Pajang diatas negeri – negeri Jawa Timur, maka secara sah kerajaan Pajang telah berdiri. Selanjutnya, kerajaan Pajang mulai melakukan ekspansi ke beberapa wilayah, meliputi juga wilayah Jawa Timur.

Jika ditinjau dari periode eksistensinya, kerajaan ini terhimpit oleh dua kerajaan Islam besar yang letak mereka tidak begitu berjauhan, yaitu periode akhir kerajaan Demak dan juga awal kerajaan Mataram Islam.

Raja-raja yang Memerintah Kerajaan Panjang

Perkembangan Islam di Jawa salah satunya dipelopori oleh kerajaan Islam pertama yang ada di Jawa, yaitu Kesultanan Demak. Setelah Demak runtuh, maka bergantilah kerajaan Demak tersebut dengan kerajaan Pajang.

Kerajaan Pajang ini didirikan oleh Jaka Tingkir yang berhasil menyingkirkan saingannya untuk kemudian memindahkan pusat kerajaan Demak ke daerah Pajang. setelah Joko Tingkir meninggal, tahta kerajaan diambil alih oleh putra-putranya. Berikut merupakan raja-raja yang memerintah kerajaan pajang :

1. Jaka Tingkir

Jaka Tingkir mempunyai banyak sebutan nama, diwaktu kecil panggilannya Mas Krebet. Karenakan ketika Jaka Tingkir lahir ada pertunjukan wayang di rumahnya. pada saat remaja, ia mempunyai nama Jaka Tingkir, dan mendapat gelar “Hadiwijaya” setelah berkuasa di pajang, Jaka Tingkir menjadi menantu dari Sultan Trenggana (Sultan Kerajaan Demak). Jaka Tingkir berasal dari daerah Pengging, di Lereng Gunung Merapi. Jaka Tingkir juga merupakan cucu dari Sunan Kalijaga yang berasal dari daerah Kadilangun.

Jaka Tingkir mendirikan kerajaan islam baru setelah berakhirnya dari kerajaan Demak. Kerajaan tersebut tidak bertahan lama, tapi bukan berarti kerajaan ini tidak memberikan perkembangan apa-apa terhadap perluasan islam di Jawa Tengah, Dibawah pimpinan Jaka Tingkir kerajaan ini mengalami kemajuan yang sangat pesat.

Kemajuan yang dialami yaitu usaha ekspansi wilayah kekuasaan, seperti ekspansi ke daerah Madiun. Selain itu, Pajang juga berhasil melakukan ekspansi ke daerah Blora pada tahun 1554 M dan daerah Kediri tahun 1577 M. Jaka Tingkir berhasil mendapatkan pengakuan dari seluruh adipati di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Pada tahun 1581 M. Pada masa pemerintahannya jugalah mulai dikenal di daerah pesisir, yaitu kesusastraan dan kesenian dari keraton yang sudah terkenal sebelumnya.

Kesusastraan dan kesenian keraton tersebut sebelumnya berkembang di Demak dan Jepara. Selain itu, yang terpenting adalah pengaruh Islam yang kemudian menjalar cepat keseluruh daerah pedalaman, dengan seorang tokoh pelopor yaitu Syekh Siti Jenar. Sedangkan di daerah Selatan, Islam disebarkan oleh Sultan Tembayat.

Pada saat ini terdapat tulisan tentang sajak Monolistik Jawa yang dikenal dengan Nitti Sruti. Diadakannya pesta Angka Wiyu. Selain itu, kesusastraan Jawa juga dihayati dan dihidupkan di Jawa Tengah bagian Selatan. Dapat dikatakan bahwa pada masa inilah, kerajaan Pajang mengalami masa kejayaan, sebelum akhirnya kerajaan ini mulai mengalami kemunduran setelah kematian sultan Jaka Tingkir  atau Hadiwijaya (1582 M).

2. Arya Pangiri atau Ngawantipura

Arya Pangiri adalah raja kedua setelah Jaka Tingkir, Arya Pangiri berasal dari Demak. Ayahnya merupakan raja ke-empat kerajaan Demak yang bernama Sultan Prawoto. Bukan hanya sebagai raja saja, namun ia pernah menjabat sebagai bupati di Demak. Setelah sultan Hadiwijaya wafat, Arya Panggiri kemudian menjadi raja Pajang menggantika sultan Hadiwijaya. Selama menjabat sebagai sultan di kerajaan Pajang, Arya Panggiri mempunyai gelar sultan Ngawantipura.

Dalam pemerintahannya, sultan Arya Panggiri hanya mengutamakan usaha untuk menaklukkan Mataram, dari pada menciptakan kesejahteraan rakyatnya. Dia melanggar wasiat mertuanya (Hadiwijaya), dengan membentuk pasukan yang terdiri atas orang-orang bayaran dari Bugis, Bali, dan makasar untuk menyerbu Mataram pada masa kerajaan Sutawijaya.

Ketidak adilan Arya Pangiri juga berlaku terhadap penduduk asli Pajang. Para pejabat asli Pajang digeser kedudukannya dan digantikan oleh orang-orang Demak, yang mengakibatkan banyak rakyat Pajang yang tersisihkan.

Karena ketidak adilan Raja Arya Panggiri, banyak warga Pajang yang menjadi perampok karena kehilangan mata pencariannya. Ada juga warga yang pindah ke Jipang mengabdi pada Pangeran Benawa. Hingga pada akhirnya, ia berhasil dikalahkan oleh Benawa, yang kemudian akan menjadi sultan kerajaan Pajang. Setelah ia kalah, ia dipulangkan ke Demak.

3. Pangeran Benawa atau Prabuwijaya

prabuwijaya merupakan raja ke 3 dari kerajaan pajang, Pangeran Benawa adalah anak kandung dari Sultan Hadiwijaya. ia bergelar Sultan Prabuwijaya.
By : kerisku.id

Pangeran Benawa adalah anak kandung dari Sultan Hadiwijaya. ia bergelar Sultan Prabuwijaya. Sejak kecil, ia sudah dipersaudarakan dengan Sutawijaya yang nantinya akan mendirikan kerajaan Mataram. Pada keturunannya-lah nantinya akan terlahir orang-orang besar dan pujangga-pujanga besar. Setelah Sultan Prabuwijaya  meninggal pada tahun 1587, kerajaan Pajang menjadi negara yang tunduk sepenuhnya terhadap Mataram. Disebabkan karena tidak adanya pengganti yang cukup cakap untuk memegang kendali pemerintahan Pajang.

kemunduran Kerajaan Panjang

runtuh dan berakhirnya pemerintahan Kerajaan Pajang dan dimulainya Kerajaan Mataram yang bercorak Islam (Kerajaan Mataram Islam).
By : sejarahindonesiadahulu.blogspot.com

Setelah Hadiwijaya meninggal, ada peristiwa persaingan perebutan jabatan menjadi pangeran selanjutnya, antara putra dan menantunya, yaitu pangeran Benawa dengan Arya Panggiri. Penembahan Kudus mendukung Arya panggiri sehingga berhasil naik tahta tahun 1583.

Pemerintahan Arya Pangiri hanya disibukkan dengan usaha balas dendam terhadap Mataram. Kehidupan rakyat Pajang terabaikan karena kemelut tersebut. Hal itu membuat Pangeran Benawa yang sudah tersingkir ke Jipang, merasa prihatin.

Pada tahun 1586 Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya menyerbu Pajang. Walaupun pada tahun 1582 Sutawijaya menyetujui Hadiwijaya, namun Pangeran Benawa tetap menganggapnya sebagai saudara tua.

Perang antara Pajang melawan Mataram dan Jipang berakhir dengan kekalahan Arya Pangiri. Ia membahas ke negeri asalnya yaitu Demak. Pangeran Benawa kemudian menjadi raja Pajang yang ketiga. Kerajaan Pajang berubah menjadi kadipaten pada masa pemerintahan Pangeran Benawa.

Pemerintahan Pangeran Benawa berakhir tahun 1587. Tidak ada putra mahkota yang menggantikannya Pajang pun dijadikan negeri bawahan Mataram. Yang menjadi bupati di sana adalah Pangeran Gagak Baning atau adik Sutawijaya.

Sutawijaya sendiri membentuk Kerajaan Mataram, di mana ia menjadi raja pertama yang bergeser Panembahan Senopati. Sejak peristiwa itu, Sutawijaya secara sah menjadi Sultan Pajang. Namun, tidak lama kemudian ia memindahkan ibu kota kerajaan ke Kotagede yang terletak di sebelah Tenggara Kota Yogyakarta.

Bukan hanya Ibu Kota yang berubah letak, namun nama kerajaan pun berubah menjadi Mataram. Sutawijaya diangkat menjadi Sultan Mataram (1586-1601) dengan gelar Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama Kalifatullah. Yang mempunyai arti, sultan yang sekaligus sebagai panglima perang dan pemimpin agama. Peristiwa ini menyebabkan runtuh dan berakhirnya pemerintahan Kerajaan Pajang dan dimulainya Kerajaan Mataram yang bercorak Islam (Kerajaan Mataram Islam).

Itulah beberapa sejarah Kerajaan Pajang yang berasil dirangkum pada kesempatan kali ini. Terimakasih telah mengunjungi Matakaca.com ( Singgah di sudut pandang mata dunia ) semoga dapat bermanfaat. Jika ada saran dan lain-lain silahkan komen ya….. Biar bisa sharing bareng. Wassalamu’alaikum.

Leave a Comment